Selasa, 08 Februari 2011

Radio Frequency Identification

RFID (Radio Frequency Identification) adalah teknologi identifikasi berbasis gelombang radio. Teknologi ini mampu mengidentifikasi berbagai objek secara simultan tanpa diperlukan kontak langsung (atau dalam jarak pendek). RFID dikembangkan sebagai pengganti atau penerus teknologi barcode. Implementasi RFID secara efektif digunakan pada lingkungan manufaktur atau industri dimana diperlukan akurasi dan kecepatan identifikasi objek dalam jumlah yang besar serta berada di area yang luas. RFID bekerja pada HF untuk aplikasi jarak dekat (proximity) dan bekerja pada UHF untuk aplikasi jarak jauh (vicinity).
Implementasi RFID di Indonesia, khususnya dalam bidang perpustakaan, masih tergolong sangat baru. Oleh karena itu, implementasi RFID ini akan memberikan nilai ekslusivitas serta publikasi yang tinggi, selain juga akan mewujudkan revolusi dalam manajemen perpustakaan modern. Implementasi RFID pada sektor perpustakaan tengah menjadi trend. RFID memberikan keunggulan yang signifikan bila dibandingkan dengan teknologi barcode dan tag anti-theft (pencurian). Keunggulan utama adalah pada meningkatnya kualitas pelayanan serta penghematan biaya operasional tenaga petugas perpustakaan.
Suatu sistem RFID secara utuh terdiri atas 3 komponen:
Ø Tag RFID, dapat berupa stiker, kertas atau plastik dengan beragam ukuran. Didalam setiap tag ini terdapat chip yang mampu menyimpan sejumlah informasi tertentu.
Ø Terminal Reader RFID, terdiri atas RFID-reader dan antenna yang akan mempengaruhi jarak optimal identifikasi. Terminal RFID akan membaca atau mengubah informasi yang tersimpan didalam tag melalui frekuensi radio. Terminal RFID terhubung langsung dengan sistem Host Komputer.
Ø Host Komputer, sistem komputer yang mengatur alur informasi dari item-item yang terdeteksi dalam lingkup sistem RFID dan mengatur komunikasi antara tag dan reader. Host bisa berupa komputer stand-alone maupun terhubung ke jaringan LAN / Internet untuk komunikasi dengan server.
Keunggulan utama RFID adalah pada aspek efisiensi dan kenyaman, dapat diuraikan sebagai berikut:
Ø Tag RFID mampu diidentifikasi secara simultan (bersamaan), tanpa harus berada dalam jarak dekat (untuk mendukung aktivitas multiple check-in, check-out, shelf-inventories).
Ø Tag RFID mampu diidentifikasi menembus berbagai objek seperti kertas, plastik dan kayu (wireless data capture).
Selain berfungsi sebagai tag identifikasi, tag RFID juga memiliki berbagai fitur sekuritas bawaan (built-in) sehingga dapat dikembangkan sebagai pondasi infrastruktur pengendalian. Layanan self-service diwujudkan dengan sebuah perangkat Smart Self-Service Kiosk. Perangkat ini merupakan perpaduan dari: komputer, smartcard reader, terminal RFID, dan Self-Check-In Box. Dengan kartu anggota berbasis smartcard, keabsahan status anggota dapat diverifikasi dengan memasukkan kartu anggota ke smartcard-reader dan memasukkan PIN. Verifikasi dapat diperkuat dengan menggunakan sidik jari. Seluruh koleksi yang akan dipinjam akan diidentifikasi, tag di setiap koleksi akan diperbaharui dengan informasi peminjam, sehingga koleksi dapat melewati gerbang deteksi tanpa memicu alarm pencurian. Untuk mengembalikan koleksi tidak perlu menggunakan layanan loket, cukup memasukkan seluruh koleksi ke Self-Check In Box. Boks khusus ini akan otomatis mendeteksi koleksi dan identitas peminjam, serta memperbaharui database perpustakaan.
Juga mereka yang terlibat dalam pembuatan surat-surat identitas, paspor, dan lain-lain. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa teknologi ini akan tampak dalam bentuk label, stiker, kartu, gantungan kunci, koin, gelang, atau bentuk-bentuk tag lainnya. Hanya saja, tag atau kartu ini dapat memancarkan gelombang radio berupa kode (ID dan informasi lainnya).
Cara kerja RFID
Ada dua macam RFID, yaitu RFID aktif dan RFID pasif. RFID aktif terdiri dari suatu rangkaian chip untuk menyimpan identitas dan informasi lainnya, pemancar, antena, dan baterai. RFID aktif memancarkan sinyal dengan tenaga dari baterai.
Pada umumnya RFID tidak memancarkan sinyal terus-menerus. Untuk menghemat baterai, RFID hanya akan memancarkan sinyalnya apabila ada sinyal pemicu yang sesuai dengan tata cara pengiriman dan penerimaannya (protokol). Sinyal pemicu ini biasanya ditempatkan menjadi satu pada alat pemancar/penerima (reader dan antena).
Secara singkat dapat dijelaskan bahwa sebenarnya RFID tag dan reader/antena keduanya merupakan transceiver (transmitter-receiver). Jarak jangkau RFID aktif ini ada yang menjanjikan dapat sampai 100 meter. Bentuk RFID aktif umumnya mempunyai ketebalan beberapa milimeter untuk tempat baterainya.
Sedangkan ukurannya bervariasi, ada yang sebesar uang logam Rp 1.000, ada yang berupa gantungan kunci, ada yang berupa kartu nama, dan lain-lain. RFID aktif ini umumnya digunakan untuk sistem keamanan (mobil, barang-barang berharga), pembayaran tol dan parkir otomatis, lokasi keberadaan (misalnya keberadaan dokter, perawat dan pasien di dalam lingkungan rumah sakit), dan lain-lain.
Harga RFID aktif yang paling murah masih di atas 10 dollar AS. Masa aktif baterai 3-5 tahun. Untuk RFID aktif ini ada bermacam-macam fitur, di antaranya ada yang dapat menyimpan data cukup besar. Selain itu, data dalam RFID dapat diisi sendiri oleh pemakai (bersifat read/write).
RFID pasif tidak mempunyai baterai. Sinyal dikirim oleh reader/antena (transceiver) diterima oleh RFID tag, kemudian rangkaian dalam tag dengan menggunakan energi sinyal tadi mengirim data ke antena dan reader kembali. Oleh karena itu sinyalnya sangat lemah. Paling jauh hanya sekitar tiga meter.
Banyak aplikasi untuk RFID pasif ini yang efektif berjalan di bawah 50 cm. Bentuk RFID pasif ini sebagian besar berupa label, baik label yang digantung pada barang-barang seperti pakaian atau label yang ditempel di kotak pembungkus/karton. Ukurannya bermacam-macam. Yang umum dipakai adalah 10 x 15 cm dan 1,5 x 3 inci.
Adapun tebalnya hanya seperti kertas. Toko seperti Wal-Mart sudah mengaplikasikan label-label ini, demikian juga Tesco dan Mark & Spencer. Pabrik Philips di Kaohsiung juga telah menggunakan label semacam ini. Tak ketinggalan P&G, Unilever, Gillette, BAT, Michelin, dan lain-lain.
Untuk kalangan bisnis di Indonesia mungkin harga label ini masih cukup mahal, sekitar 0,35 dollar AS. Namun, untuk toko alat-alat elektronik, mungkin tambahan sebesar itu tidak terlalu signifikan. Para produsen berupaya untuk dapat membuat harga label ini lebih murah, mungkin dalam satu-dua tahun ini harga dapat mencapai di bawah 0,10 dollar AS.

(sumber:kompas.com)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Poskan Komentar

"my facebook"